Penulis: Ahmad Dahlan

  • Tu Manurung Bainea – Raja Gowa Pertama

    Tu Manurung Bainea – Raja Gowa Pertama

    Dalam kepercayaan orang-orang Gowa, Tumanurung Bainea dipercaya sebagai seorang wanita yang diturunkan dari langit ke butta Gowa oleh Batara. Tujuannya untuk mendamaikan perang saudara diantara mereka. Tumanurun Bainea kemudian berhasil mendamaikan perang saudara yang terjadi pada sembilan kasuwiyang. Para Tumabbicaran Butta dari masing-masing Kasuwiyang pun sepakat untuk mengangkat Tumanurung Bainea sebagai raja Gowa pertama. Masa Pemerintahan Tumanurun Bainea tahun 1320 sampai 1345.

    Ilustrasi Tumanurung Bainea Raja Pertama gowa

    Tu manurung ri Tamalatea

    A. Siapa Tu Manurung Bainea

    Tu Manurung Bainea, juga disebut sebagai Tu manurung ri Tamalatea, merupakan tokoh mitologi yang dipercaya sebagai jelmaan dewi (dewa perempuan) yang turun ke Bumi, khususnya Butta Gowa*. Tu manurung Baine sendiri secara harfiah berarti Tu Manurung (Tu, Tau: Orang dan Manurung: Turun dari langit), dan Baine yang berarti perempuan.

    B. Kisah Kemunculan

    I. Lokasi Kemunculan

    Berdasarkan namanya, Tu Manurung Bainea juga dikenal dengan nama Tu Manurung ri Tamaleta karena lokasi turunnya berada di sebuah bukit di Tamalatea, Gowa. Lokasi ini berada di daerah Katangka, yang dulunya merupakan tempat Istana Tamalatea, atau Balla Lompoa sebelumnya dipindahkan Jalan Sultan Hasanuddin No. 48 (atau No. 44), Kelurahan Sungguminasa, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

    Daerah Tamaleta, sekarang daerah Katangka, adalah daerah perbukitan yang disebut dengan bukit Taka Bassia. Menurut Lontara Patturioloang, Tu manurung Baine ditemukan oleh Bate Salapang duduk di atas sebuah batu di Taka Bassia, sekitar abad 14. Tu manurung Baine selanjutnya dilantik jadi Raja Gowa pertama yang memerintah sekitar tahun 1320 – 1345. Tidak ada catatan sejarah dari Kerajaan Gowa maupun artefak terkait dengan masa kepemerintahan Tu manurung Bainea. Catatan tertua tentang Kerajaan Makassar ditemukan naskah Kakawin Nagarakrerahama (1365 M).

    II. Kondisi Sebelum Tu manurung

    Masa sebelum kedatangan Tu manurung Bainea disebut sebagai Masa Gowa Purba. Masa tersebut daerah Gowa pernah dipimpin oleh empat raja baik secara khusus masyarakat Gowa maupun raja dari daerah yang lain dengan kekuasaan yang lebih luas. Raja-raja tersebut adalah (1) Batara Guru, (2) Saudara Batara Guru, (3) Ratu Supu, dan (4) Karaeng Katangka.

    UrutanTokohKeterangan
    1Batara GuruDisebut sebagai penguasa Gowa purba. Ada dugaan hubungan dengan Batara Guru dalam tradisi La Galigo, tetapi identitas keduanya tidak dapat dipastikan sama.
    2Saudara Batara GuruMuncul dengan sebutan Tunibunoa Tolali, yang berati yang dibunuh oleh Tolali.
    3Ratu Supu, MarancaiTokoh perempuan yang disebut dalam urutan penguasa Gowa purba.
    4Karaeng KatangkaPenguasa terakhir dalam urutan empat tokoh tersebut sebelum periode Tumanurung Bainea. Nama aslinya tidak diketahui.
    Batara Guru

    Batara Guru adalah sosok yang dipercaya memimpin Gowa, namun tidak ada catatan penting terkait dengan Batara Guru dalam tradisi La Galigo, meskipun kronologi waktunya sangat dekat. Hal serupa dengan Saudara Batara Guru, satu-satunya catatan yang menyebutnya tidak dengan nama namun dengan sebutan yakni Tunibunoa Tolali atau orang yang dibunuh Tolali. Istilah dijelaskan oleh Chumming (2007), berdasarkan tiga catatan lain yakni :

    1. Naskah kronik Gowa. Cummings membandingkan delapan manuskrip kronik Gowa dan Tallo dari sejumlah koleksi, termasuk British Library MS 12351, yang merupakan naskah abad ke-18. Edisinya menggunakan manuskrip British Library sebagai teks dasar.
    2. Ringkasan Belanda abad ke-19. Cummings menyebut ringkasan awal oleh Blok (1848: 7) dan tulisan dalam Bijdragen (1854: 149). Kedua sumber itu menafsirkan bagian pembukaan sebagai daftar empat penguasa awal: Batara Guru, saudaranya Tunabunoa Tolali, Ratu Sampo Marantaya, dan Karaeng Katangka. Cummings menduga penulis ringkasan tersebut mungkin juga memperoleh keterangan dari informan Makassar pada pertengahan abad ke-18.
    3. Penafsiran J. Noorduyn. Dalam catatan yang sama, Cummings membahas artikel Noorduyn tahun 1991, halaman 458–461, yang menawarkan pembacaan berbeda terhadap teks tersebut. Cummings sendiri menduga bahwa Tunabunoa Tolali mungkin bukan nama pribadi, melainkan nama anumerta Ratu Sampo Marantaya setelah dibunuh oleh Tolali. Ia secara eksplisit menyatakan bahwa kesimpulan itu masih berupa dugaan

    Cummings, W, (2007) A Chain of Kings: The Makassarese Chronicles of Gowa and Talloq.

    Kasuwiyang

    Saat itu Gowa masih terdiri dari 9 perkampungan kecil yang disebut Kasuwiang. Kesembilan Kasuwiang itu dimaksud adalah : Tombolo, Lakiung, Saumata, Parang-parang, Data, Agang Je’ne, Kalling dan Sero. Pada masa itu, rakyat di 9 kasuwiang dilanda perang saudara antara Gowa di bagian utara dan Gowa di bagian selatan seberang sungai je’neberang. Paccallaya sebagai ketua Federasi ke 9 negeri itu tak mampu mengatasi perang saudara tersebut. karena fungsi Paccallaya hanya sebagai lambang dan tak punya pengaruh kuat pada anggota persekutuan yang masing-masing punya hak otonom.

    Untuk meredakan peperangan, diperlukan seorang figur yang bisa diterima oleh semua pemimpin kaum dan rakyatnya.

    Suatu saat, terdengar berita oleh Paccallaya, bahwa ada seorang putri Ratu yang turun di atas Bukit Tamalate, tepatnya di Taka’bassia. Paccallaya dan ke 9 Kasuwiang bergegas menuju Bukit itu, saat penantian, orang-orang yang berdiam di kampung Bonto Biraeng melihat seberkas cahaya dari atas langit. Cahaya itu kemudian perlahan-lahan turun ke bawah hingga sampai di Taka’bassia.

    Paccallayadan ke 9 kasuwiang itu duduk mengelilingi taka’bassia  sambil bertafakkur. Ketika cahaya itu turun di Taka’bassia kemudian menjelma menjadi seorang putri cantik yang memakai mahkota emas bertahtakan berlian, kalung emas, rantai emas, serta gelang emas. Putri Ratu itu kemudian diberi nama Tumanurung Bainea..

    Paccallaya dan kasuwiang salanga, kemudian sepakat mengangkat putri ratu sebagai rajanya. Kasuwiang Salapanga dan Paccallaya kemudian mendekati Putri Ratu seraya bersembah; “Sombangku”! (Tuanku..) kami datang semua ke hadapan Sombangku, kiranya Sombangku sudi menetap di negeri kami dan Sombangku yang merajai kami.

    Tumanurung adalah bukanlah nama aslinya. Namanya tidak diketahui sehingga masyarakat pada saat itu memberinya nama Tumanurung.

    Tak ada satu catatan sejarahpun masa itu yang bisa mengungkapkan kedatangan Tumanurung di Butta Gowa. Hanya saja, pemikiran masyarakat Gowa saat itu yang menganut animisme ditambah dengan pengaruh Hindu sebagai akibat dari pengaruh Kerajaan Majapahit (Abd IV – XV), dimana agama hindu juga ada pengaruhnya di wilayah timur nusantara ini.

    Dalam konsep animisme ataupun Hindu, mempercayai adanya Dewa yang turun dari kayangan juga ada Dewa dari air. Berdasarkan konsep pemikiran itulah, muncul nama Tumanurung yang berarti Ratu Putri yang turun dari Negeri Kayangan, sedang Raja yang datang dari air disebut Karaeng Bayo (Bayo= air) yang menjadi suami Ratu Tumanurung.

    Judul Dua

    K

    Ketika Tumanurung menjadi Raja di Gowa, kondisi keamanan di Gowa yang tadinya dilanda peperangan, tiba-tiba berubah menjadi Negeri yang damai. Rakyat Gowa kala itu bersatu padu untuk membangun Istana di atas Bukit Tamalate. Istana itu kemudian diberinama “Istana Tamalate”.

    Sebelum menjalankan roda pemerintahan, Ratu Tumanurung dan Rakyat Gowa yang diwakili Kasuwiang Salapanga melakukan dialog yang kemudian dijadikan sebagai kontrak sosial. Cuplikan dialog sbb :

    Anne Niallenu Karaeng

    Karaengmako kau

    Atamakkang I Kambe

    Arinya ; kami mengangkat engkau menjadi Raja kami, engkau adalah raja dan kami adalah hamba rakyat tuanku.

    Makkanamako Kumammio

    Niaya punna Massongongkang

    Tamalembarakkang

    Punna Mallembarakkang Ramassongkang

    Artinya ; Bertitahlah engkau dan kami akan tunduk dan patuh, kalau kami menjunjung, maka kami tidak memikul, kalau kami tidak memikul maka kami tidak menjunjung.

    Maksudnya, segala titah raja kami junjung tinggi, akan tetapi jika perintah tuanku tidak adil maka perintah itu tidak kami laksanakan oleh Kasuwiang Salapanga.

    Putri Ratu Tumanurung yang bersuamikan Karaeng Bayo ini kemudian melahirkan seorang anak bernama Tumassalangga Baraya yang kelak menggantikan beliau sebagai Raja di Gowa.

  • Halo dunia!

    Selamt datang di WordPress. Ini adalah pos pertama Anda. Sunting atau hapus, kemudian mulai menulis!